Mengenal pupuk organik

Istilah organik seringkali menimbulkan kebingungan bagi pembaca dan pengguna istilah ini. Dari konteks kimiawi organik mengacu pada beberapa konteks:

  • Organic matter/ bahan organik, yaitu sisa hasil pembusukan, atau bahan bahan yang mampu membusuk yang berasal dari makhluk hidup
  • Organic compound/ senyawa kimia, yaitu senyawa yang mengandung unsur karbon, seperti protein, lemak, asam amino, dll., di mana ilmu yang mempelajarinya disebut biokimia.
Istilah organik pada pupuk (nutrisi/ makanan tanaman) organik lebih mengacu pada konteks pertama, yaitu  pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, mikroba, dan manusia. Sehingga bukan semua yang mengandung unsur karbon (C) dapat disebut sebagai pupuk organik seperti urea misalnya yang memilki rumus kimia (NH2)2CO bukanlah pupuk organik sebab berasal dari materi anorganik.  Tidak ada pengelompokan baku mengenai pupuk organik, namun beberapa bahan di bawah sering kali di masukkan dalam kategori pupuk organik.

Humus
Meskipun terjadi secara alami di alam, humus sering dimasukkan sebagai pupuk organik. Humus adalah lapisan tanah (ideal) terluar, yang terdiri dari bahan- bahan organik yang mengalami dekomposisi sempurna dan telah mencapai titik di mana sudah tidak mampu lagi mengalami dekomposisi lanjutan hingga ribuan tahun. Humus juga mengacu pada kompos (kita akan bahas di pembahasan di bawah) yang mature/ matang, atau kompos yang diambil dari sisa pembusukan seresah/ daun kering hutan (dengan jumlah terbesar), kotoran dan sisa- sisa binatang dan serangga, buah membusuk yang tidak termakan binatang, dan lain- lain di dasar hutan.
Kompos
Kompos adalah hasil akhir dari proses dekomposisi dari bahan organik, atau dapat dikatakan merupakan hasil dekomposisi dan daur ulang yang sempurna dari bahan organik. Kompos bukan merupakan sumber nutrisi (makro dan mikro) bagi tanaman, namun berfungsi sebagai soil conditioner atau mengkondisikan tanah menjadi keadaan yang ideal seperti humus yang alami (www.about.com). Kompos mampu meningkatkan kualitas struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba tanah(fungsi prebiotic), mengkondisikan tanah menjadi optimal bagi hewan dan serangga pendukung kesuburan tanah seperti cacing, menekan penyakit yang menyebar melalui tanah, dan mampu mengikat hara serta air.
Kompos dalam bentuk cair, sehingga lebih mudah dan murah pengaplikasiannya
Manure
Sering disebut sebagai pupuk kandang, berupa kotoran dan urine dari ternak yang diaplikasikan pada tanah sebelum menjadi kompos yang matang. Manure lebih berfungsi sebagai penambah nutrisi bagi tanaman, seperti misalnya manure dari peternakan ayam mengandung N cukup tinggi karena biasanya di dalam kotoran tersebut tercampur pula pakan ayam serta suplemen ayam yang kandungan proteinnya cukup tinggi.
Pupuk kotoran ayam, kandungan NPK 3-2-2, link
Pupuk hayati
Istilah pupuk hayati mengacu pada mikroba atau probiotic yang memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan suatu tanaman dan kesuburan tanah. Ada beberapa mikroba tertentu yang bersimbiosis dengan tanaman tertentu seperti Rhizobium japonicum dengan kedelai, ada pula mikroba yang memilki sifat kosmopolit yang mampu bersimbiosis dengan berbagai tanaman seperti mikorisa, blue green algae, trikoderma, dan lain- lain. Mikroba- mikroba tersebut biasanya merupakan organisme alami yang ada di tanah yang memiliki fungsi beraneka ragam, seperti penambat nitrogen, pemecah fosfat, dekomposer, dan lain- lain. Dari istilah pupuk hayati, kini muncul istilah MOL/ mikroorganisme lokal, yang sebenarnya secara harfiah penyebutan  lokal ini jadi salah kaprah, sebab mikroorganisme ini bisa diperoleh dari mana saja, hanya pembuatannya biasanya mengacu pada bahan- bahan yang tersedia secara lokal. Istilah MOL juga seringkali digunakan untuk semua jenis mikroba yang akan diaplikasikan di tanah yang disiapkan sendiri oleh penggunannya, atau bukan produk komersial.
Rhizobium japonicum yang bersimbiosis dengan akar kedelai, link
Pupuk Bio
Saat ini kita akan sering pemerintah menggunakan istilah pupuk bio yang biasanya berbentuk cair. Pupuk bio biasanya mengacu pada produk fermentasi dari bahan organik yang biasanya diperkaya dengan berbagai bahan guna keperluan khusus.

Berkenalan dengan pestisida

Pestisida  merupakan semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

  • Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
  • Memberantas rerumputan. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
  • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman tidak termasuk pupuk.
  •  Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak.
  • Memberantas atau mencegah hama-hama air.
  • Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan.
  • Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air.
Ulat pada jagung, link

 

 

Untuk memperkecil dampak negatif penggunaan pestisida, dalam hal ini memperkecil residu pestisida pada hasil pertanian, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

 

Pemilihan Pestisida
a. Memilih Pestisida yang Tepat Jenis
Agar penggunaannya efektif, jenis pestisida yang akan digunakan harus tepat, yaitu disesuaikan dengan OPT (hama, penyakit, dan gulma) sasaran yang menyerang tanaman.
Menurut OPT sasaran yang akan dikendalikan, pestisida dapat dikelompokkan antara lain menjadi:

  • insekstisida (insecticide) : untuk mengendalikan insekta (serangga)
  • fungisida (fungicide) : untuk mengendalikan fungus (cendawan/jamur)
  • bakterisida (bactericide) : untuk mengendalikan bakteri
  • herbisida (herbicide) : untuk mengendalikan herba (gulma atau tumbuhan pengganggu)
  • nematisida (nematicide) : untuk mengendalikan nematoda
  • pissisida (piscicide) : untuk mengendalikan ikan
  • moluskisida (moluscicide) : untuk mengendalikan molusca
  • akarisida (acaricide) : untuk mengendalikan akarina/tungau, dll

Tiap kelompok pestisida tersebut pada umumnya mempunyai sifat tersendiri dan tidak efektif terhadap OPT dari golongan yang lain, misalnya insektisida tidak dapat mengendalikan cendawan atau gulma. Tetapi ada juga satu jenis pestisida yang digolongkan kedalam lebih dari satu kelompok, misalnya disamping sebagai insektisida juga sebagai nematisida, pissisida, dsb.
Oleh karena itu, jenis pestisida yang dipilih harus sesuai dengan OPT-nya. Kalau OPT-nya adalah serangga maka pilihlah insektisida, kalau OPT-nya cendawan pilihlah fungisida dan seterusnya.
Setelah memilih kelompoknya, kemudian memilih jenis yang efektif untuk OPT sasaran yang ada. Walaupun sama sebagai insektisida tetapi tidak berarti efektif atau tingkatan keefektifannya sama terhadap semua serangga.
Untuk mengetahui pestisidanya, termasuk kelompok apa dan efektif untuk OPT apa, dapat dibaca label pada kemasan pestisidanya.

Kesalahan dalam memilih jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida tersebut, misalnya OPT tidak terkendali dan tanaman tidak “sembuh”. Hal ini mendorong pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang dampaknya antara lain residunya tinggi. Sebaliknya, apabila jenis yang dipilih benar dan efektif maka tidak diperlukan aplikasi ulangan lagi sehingga residunya rendah. Oleh karena itu, OPT yang menyerang harus diamati secara cermat sebelum memilih jenis pestisida yang tepat.

b. Memilih Pestisida yang Mudah Terurai (Tidak Persisten)
Suatu pestisida tertentu mempunyai sifat fisiko kimia yang berbeda dengan yang lainnya, walaupun kelompoknya sama. Ada jenis pestisida yang mudah teroksidasi, tereduksi, terhidrolisa dan mengalami reaksi lain sehingga akan rusak atau bahkan menjadi senyawa lain yang tidak berbahaya.

Berdasarkan sifat fisiko kimianya ada pestisida yang tidak mudah rusak di alam, sehingga tetap berada di alam dalam jangka waktu panjang (disebut persisten). Sebaliknya, ada pestisida yang mudah rusak/berubah menjadi senyawa lain di alam sehingga keberadaannya di alam hanya dalam waktu pendek (disebut non persisten).
Untuk mengukur mudah tidaknya suatu pestisida rusak/terurai di alam, digunakan parameter waktu paruh (Decomposition Time-50 disingkat DT-50) atau senyawa tersebut terurai di alam (dalam hal ini, unsur alam yang sering digunakan adalah tanah, air, udara). DT-50 pestisida sangat beragam, dari jangka waktu jam sampai dengan jangka waktu tahun.

Decomposition Time-50 suatu jenis pestisida dapat berbeda dengan DT-50 pestisida lainnya, tetapi secara umum DT-50 pestisida adalah sebagai berikut: kelompok organo klor lebih lama daripada organo fosfat, lebih lama daripada organo karbamat, lebih lama daripada piretroid sintetik. Makin besar angka DT-50, artinya pestisida makin sulit terurai, makin lama berada di alam. Sebaliknya, makin kecil angkanya, pestisida tersebut makin mudah terurai di alam, sehingga residunya akan cepat berkurang.

Untuk mengurangi residu pestisida, selain yang tepat jenis agar efektif, pestisida yang dipilih hendaknya yang mempunyai DT-50 kecil (mudah rusak di alam). Namun, informasi tentang DT-50 tidak mudah diperoleh karena tidak tercantum dalam label pestisida, sehingga perlu dicari ke sumber lainnya, misalnya petugas perlindungan tanaman pangan dan hortikultura atau pemilik produk.

 

Penyemprotan insektisida dengan pesawat, link

 

Pengaturan Cara Aplikasi Pestisida


a. Waktu Aplikasi
Aplikasi pestisida seharusnya hanya dilakukan pada waktu populasi atau intensitas serangan OPT telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Jangan mengaplikasikan pestisida pada saat populasi atau intensitas serangan OPT masih di bawah ambang ekonomi, atau secara reguler tanpa memperhatikan populasi/intensitas serangan OPT, apalagi tidak ada serangan OPT. Hal ini dimaksudkan agar aplikasi pestisida hanya pada waktu yang diperlukan dan tidak berlebihan.

Selain mempertimbangkan ambang ekonomi, aplikasi pestisida perlu memperhatikan stadia peka sebagian besar populasi OPT terhadap pestisida. Aplikasi pestisida pada stadia peka akan lebih efektif walaupun dengan dosis rendah dan tidak perlu diulang dalam jangka waktu pendek. Contoh: aplikasi pestisida untuk mengendalikan ulat grayak sebaiknya dilakukan pada waktu larva berada pada instar 1–3, karena larva pada instar berikutnya (instar 4–6) relatif lebih tahan terhadap pestisida. Stadia yang relatif tahan pestisida pada umumnya adalah telur dan pupa.

b. Dosis Aplikasi
Dosis (liter atau kilogram pestisida per hektar tanaman) dan konsentrasi (mililiter atau gram pestisida per liter cairan semprot) yang digunakan adalah dosis dan konsentrasi minimum yang efektif terhadap OPT sasaran. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan pestisida tidak berlebihan dan residunya tidak tinggi. Di samping itu, penggunaan pestisida yang berlebihan dapat mempercepat terjadinya resistensi.
Informasi tentang dosis dan konsentrasi efektif yang dianjurkan dapat dibaca pada label masing-masing pestisida. Contoh: apabila dosis satu liter per hektar suatu pestisida cukup efektif untuk mengendalikan OPT A, maka pestisida tersebut tidak perlu diaplikasikan dengan dosis lebih daripada itu.
Dosis pestisida yang berlebihan tidak berpengaruh nyata terhadap efektivitas, tetapi dampak negatif yang ditimbulkannya dapat berbeda nyata; terutama residu pestisida, percepatan resistensi, pemborosan, dan pencemaran lingkungan hidup.

c. Sasaran Aplikasi
Perlu diupayakan semaksimal mungkin agar aplikasi pestisida diarahkan pada sasarannya yang tepat, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
° Tidak diaplikasikan pada bagian tanaman yang akan dikonsumsi. Apabila yang akan dikonsumsi adalah buahnya, maka aplikasi pestisida tidak diarahkan pada buah.
° Aplikasikan pestisida pada bagian tanaman yang terserang atau ada populasi OPT-nya. Hal ini dimaksudkan agar pestisida terfokus pada bagian tanaman yang memerlukannya; sehingga efektif, efisien, dan tidak meninggalkan residu pada bagian tanaman yang tidak perlu diaplikasi. Contoh: apabila serangan OPT terjadi di pangkal batang, maka bagian yang diaplikasi pestisida cukup di pangkal batang saja, tidak seluruh bagian tanaman.

d. Jangka Waktu Sebelum Panen
Aplikasi pestisida yang terakhir diusahakan sejauh mungkin sebelum panen. Makin jauh dari waktu panen makin baik. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu hasil tanaman dipanen, sebagian besar pestisida sudah terurai, sehingga residunya hanya sedikit atau tidak ada. Jangan mengaplikasikan pestisida menjelang atau setelah panen, kecuali pada kondisi tertentu yang memang memerlukannya dan aplikasi pada kondisi tersebut tidak dapat dihindarkan.

e. Tidak Menggunakan Bahan Perekat (Sticker)
Bahan perekat (sticker) adalah bahan tambahan (ajuvan) yang dijual secara terpisah dari pestisida. Beberapa formulasi pestisida sudah mengandung bahan perekat, sedangkan yang lainnya tanpa bahan perekat.
Banyak anggota masyarakat yang menambahkan bahan perekat ke dalam cairan semprot dengan maksud agar pestisidanya tidak mudah tercuci air hujan dan hilang dari tanaman karena tertiup angin.
Dampak dari penggunaan bahan perekat adalah pestisida lebih lama melekat pada tanaman, sehingga masa proteksinya lebih lama. Tentu saja residunya tidak berkurang pada saat dipanen. Oleh karena itu jangan menggunakan tambahan bahan perekat, kecuali keadaan lapangan menuntut dilakukannya penambahan bahan perekat; misalnya pada saat curah hujan sangat banyak.

f. Alat dan Teknik Aplikasi yang Tepat
Alat aplikasi antara lain penyemprot/sprayer (hand sprayer, power sprayer, mist blower) penghembus/ duster, dan pengabut-panas/fogger mempunyai kinerja dan spesifikasi tertentu sesuai dengan tujuan penggunaan yang dirancang oleh pembuatnya. Penerapan teknik aplikasi yang tepat memungkinkan berfungsinya alat tersebut secara optimal. Informasi tentang hal tersebut biasanya tercantum pada leaflet/brosur masing-masing.
Penggunaan alat dan teknik aplikasi yang tepat lebih menjamin efektivitas dan efisiensi. Apabila aplikasinya efektif, maka OPT terkendali. Untuk memperkecil residunya, aplikasi pestisida tidak perlu diulang-ulang dalam jangka waktu pendek.

g. Penggunaan Fumigan
Fumigan adalah pestisida yang mudah menguap; jenis fumigan tertentu dalam kondisi normal sudah berbentuk gas. Penggunaan fumigan dapat dikatakan hampir tidak meninggalkan residu, kecuali pestisida tertentu yang dapat terserap oleh bahan tertentu yang diaplikasi. Fumigan efektif untuk pengendalian OPT yang tersembunyi.
Fumigan akan mudah menguap dan hilang di tempat terbuka. Oleh karena itu fumigan tidak digunakan di lahan pertanian; tetapi diaplikasikan hanya di ruang tertutup dan umumnya untuk produk pasca panen. Kekurangan dari fumigan adalah cara aplikasinya yang memerlukan peralatan dan keahlian khusus; sehingga tidak setiap orang mampu melakukannya, tetapi hanya aplikator profesional atau bersertifikat yang diizinkan untuk menggunakannya.

 

Disadur langsung dari blog Aku dan Tanamanku dengan beberapa penambahan

Petani jujur, petani makmur

“Bila perubahan yang kita tawarkan itu gathuk (cocok), mathuk (pantas). dan cucuk (untung) bagi petani, petani akan menerima perubahan”  (Tjandramukti)

Pada saat kita melakukan kerjasama dengan petani untuk melakukan suatu usaha cocok tanam perlu diperhatikan beberapa faktor pembatas yang kita tidak dapat mengontrolnya 100 persen, seperti iklim, pasar, dan faktor sosial ekonomi petani penggarap.

Faktor sosial ekonomi yang saya maksud adalah sifat- sifat yang melekat pada diri petani secara turun temurun atau muncul dari pengalaman hidup mereka, diantaranya yang sering menimbulkan permasalahan adalah:

  • Petani takut rugi, mereka membutuhkan jaminan agar mereka tetap mendapat hasil pada saat panen. Hal ini akan membuat mereka membuat usaha penyelamatan (saya menyebutnya asuransi), seperti misalnya bantuan pupuk mungkin akan dibagikan pada tanaman kerjasama dan tanaman milik mereka sendiri juga, misalnya dengan alasan tumpang sari; semisal bila kita bekerjasama dengan mereka menanam jagung, di lahan yang sama mereka menanam ketela pohon yang notabene memiliki umur panen lebih lama, pada saat petani memupuk jagung, secara “tidak sengaja” mereka juga memupukkannya pada ketela pohon mereka.
  • Petani tersebut sudah “berpengalaman” melakukan usaha cocok tanam dengan metode yang mereka percayai terbaik selama ini, sehingga perubahan metode yang ditawarkan pada mereka akan menimbulkan resistensi. Hal ini menyebabkan perlunya modifikasi metode untuk tiap wilayah menyesuaikan kearifan lokal yang ada. Ada baiknya membuat perubahan metode secara bertahap yang diaplikasikan pada percobaan yang dilakukan petani sendiri (farmer participatory research), sehingga petani dapat memuuskan metode mana paling menguntungkan bagi mereka.
  • Tidak semua petani jujur. Entah karena keadaan yang selalu menempatkan posisi petani sebagai warga kelas bawah, atau hal yang lain, kita mungkin akan menemukan fakta ini. Untuk itu perlu ada sistem kontrol yang jelas, mulai dari awal tanam hingga panen. Kerjasama pembelian misalnya sering kali dihadapkan dengan perbedaan harga pasar, di mana harga pasar mungkin lebih tinggi dari yang kita kontrakkan. Bila tidak ada keluwesan mengenai harga, petani dipastikan akan menjual produk mereka ke pasar bukan kepada kita meskipun adak kontrak yang mengikat, mereka bisa beralasan gagal panen, hasilnya tidak optimal, dan lain- lain. Peramalan harga yang baik, kontrol di lapangan, reaksi cepat pada saat panen dapat mengurangi risiko tersebut.
Tumpang sari koro dan jagung, link
  • Petani memiliki standar yang berbeda, seperti misalnya hal fisik tentang kadar air, takaran pupuk, penimbangan, dan  pengukuran luas wilayah. Misalnya untuk pengukuran luas wilayah, petani akan menggunakan standar yang mereka gunakan turun temurun yang mungkin akan berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Di Jawa Anda akan menemukan 1 bahu (sistem baon) di satu wilayah akan memiliki perbedaan dengan wilayah lain. Pastikan standar baku dan sosialisaikan di awal, sehingga tidak akan menimbulkan kesimpangsiuran misalnya pada saat pengukuran hasil panen.

Apakah hasil produksi tanaman ada batasannya?

Sering kita mendengar berbagai klaim (saya menyebutnya sebagai promosi) yang mengatakan sebuah metode atau suatu pupuk dapat meningkatkan produksi hasil pertanian (yield) kita secara fantastis. Apakah semuanya riil atau kebohongan? Salah satu contoh metode yang paling diperdebatkan adalah metode pertanian organik SRI (System Rice Intensification).

Penggunaan alat untuk meningkatkan aerasi di areal persawahan dalam metode SRI, link

Beberapa pengusung SRI sering menggeluarkan pernyataan bahwa hasil yang mereka capai sering kali melebihi hasil pertanian konvensional yang intensif dan bahkan tidak jarang hasil yang dilaporkan jauh melebihi dari semua hasil yang pernah dicapai di muka bumi ini, saya pernah mendengar presentasi produsen pupuk yang menyatakan metode SRI dapat menghasilkan 70 ton beras per hektar (rata- rata Indonesia adala 6 ton per ha, salah satu tertinggi di dunia). Para ahli sering kali bertentangan dengan para praktisi metode- metode tersebut, dan kini muncul istilah bahwa laporan yang mengklaim hasil luar biasa tersebut disebut sebagai UFO, bukan berhubungan piring terbang tapi Unconfirmed Field Observations. Para ahli banyak benarnya, karena memang hampir kebanyakan hasil penelitian tidak didasarkan kaidah- kaidah penelitian (metodologi penelitian) yang benar, hasil seringkali hanya didasarkan bukti empiris, sehingga hasil satu penelitian dengan penelitian lain tidak dapat saling diperbandingkan. Strategi tersebut sering digunakan oleh para produsen insektisida ataupun pupuk dalam mempromosikan produk mereka. Perlakuan petani yang biasa diperbandingkan secara langsung dengan perlakuan dari pabrikan yang menggunakan standar yang berbeda, seperti misalnya jarak tanam berbeda, jenis yang berbeda, dan total nutrisi yang berbeda. Akan berbeda dengan yang dilakukan para peneliti, di mana suatu produk atau metode akan diperbandingkan dengan sebuah kontrol (biasanya perlakuan standar rekomendasi pemerintah atau kebiasaan daerah bersangkutan) dengan metode atau produk sejenis sehingga kita dapat mengetahui keefektifan dari produk atau metode yang ditawarkan tergantung dari apa yang ingin dibuktikan. Para peneliti juga seringkali memilki kelemahan dalam melihat hal ini, di mana mereka tidak mau membuka mata atau memiliki keingintahuan yang lebih besar, siapa tahu suatu metode atau produk memang memilki kualitas seperti yang diklaimkan.

GB

Kedelai Grobogan dengan metode lokal di desa Panunggalan dapat mencapai 4 ton per hektar (dalam wilayah sempit), dengan rata- rata tertinggi 3,4 ton per hektar sering diperdebatkan para ahli dan pemerintah, link

Yang menjadi pertanyaan, adalah seberapa tinggi produktifitas yang dapat diraih oleh tanaman. Untuk menjawab hal ini saya akan selalu membandingkan dengan manusia. Misalnya tinggi manusia ras Asia seperti Indonesia adalah di bawah 170 cm, namun cukup banyak kita temui para pemain basket dengan tinggi 2 lebih, rekor tertinggi di Indonesia dipegang oleh Parmono dari Lampung dengan tinggi 2,42 meter (sebelumya dilaporkan 2,7 meter). Bila ada obat yang bilang bahwa mereka mampu meningkatkan tinggi orang Indonesia menjadi 3 meter, produk itu menjadi tidak masuk akal, karena orang Indonesia secara alami tidak mungki mencapai tinggi itu. Bila itu dapat dimengerti pada manusia, hal tersebut juga ada pada tanaman, istilahnya adalah Yield Potential,  hasil maksimum tanaman dalam suatu lingkungan tertentu tanpa adanya batasan air, nutrisi, persaingan, hama, penyakit, atau kondisi iklim. Setiap tanaman memilki yield potential yang tidak mungkin dilewati, hanya saja beberpa kasus sering terjadi mutasi (perubahan genetik) yang menyebabkan suatu individu berada jauh di atas yield potential-nya, seperti Parmono dari Lampung tersebut.

Apakah tanaman membutuhkan pupuk?

Jawabannya ya! Namun bila pertanyaannya diubah, apakah kita perlu memberikan atau menambah  pupuk pada media tanam tempat tanaman kita tumbuh? Jawabannya adalah tergantung kondisi media dan jenis tanaman. Bila media tempat kita menanam misalnya tanah sudah mengandung cukup nutrisi yang diperlukan oleh suatu tanaman untuk tumbuh dan berkembang, kita tidak harus menambah pupuk. Karena itu pohon mangga atau pohon lain di halaman kita seringkali tidak pernah diberi pupuk seumur hidupnya, namun tetap memberikan buah pada kita pada musimnya, rumput di pinggir jalan selalu terlihat hijau tanpa perlu dipupuk, dan anggrek yang menempel di pohon kita juga dapat berbunga dengan indah meskipun pupuk tidak pernah diberikan.

source

Jenis tanaman tertentu seperti pohon- pohonan memiliki sistem perakaran yang sangat luas dan dalam, sehingga mampu mengambil makanan dan air dari wilayah yang sangat luas, dan kerja tanaman tersebut juga dibantu oleh berbagai mikroba yang bersimbiosis pada wilayah perakaran tanaman.

Pada media yang tidak memenuhi jumlah hara atau nutrisi yang dibutuhkan tanaman akan menyebabkan beberapa masalah fisiologis pada tanaman tersebut, untuk itu penambahan pupuk mutlak ditambahkan. Secara umum, kekurangan hara akan ditunjukkan dalam wujud:

  • Discoloritation/ kehilangan warna daun
  • Death tissue/ kematian jaringan
  • Stunted growth/ pertumbuhan kerdil (source)

defecientleaves

Contoh perubahan warna pada tanaman jagung akibat kekurangan suatu jenis hara/ nutrisi (link)

Contoh kekurangan hara selain memnghambat pertumbuhan juga akan mengurangi kualitas dan kuantitas buah, tampak jagung yang kekeurangan N atau P akan menghasilkan tongkol yang kecil dan tidak sempurna (link)

Contoh kekurangan N (nitrogen), daun menalami klorotis (warna menguning), daun tua/ paling bawah mati (link)

Contoh kekurangan P (fosfat) pada gandum, tanaman sebelah kiri terlihat kerdil dibandingkan pembanding dengan umur sama di kanan (link)

Penambahan pupuk juga sangat diperlukan pada budidaya yang intensif, seperti misalnya penanaman benih unggul seperti benih hibrida. Tanaman- tanaman ini telah didesain sedemikian rupa untuk tumbuh optimal dengan jumlah asupan makanan tertentu, kekurangan hara akan menimbulkan permasalahan yang disebutkan di atas. Misalnya sebagai contoh jagung hibrida yang beredar di Indonesia, rata- rata akan memerlukan N sebanyak sekitar 120 kg selama masa hidupnya yang rata- rata 100 hari. Oleh produsen biasanya disarankan untuk menggunakan pupuk majemuk NPK 15-15-15 (15% Nitrogen, 15%Phospat, dan 15% Kalium) sebanyak 300 kg, dan pemupukan lanjutan sebanyak dua kali dengan menggunakan urea masing- masing 100 kg, yang sebanding dengan sekitar 40 kg N lebih setiap pemupukan. Bila nutrisi/ hara/ makanan tersebut tidak tersedia pada media kita entah karena kita kurang menambahkannya atau hal  yang lain, tanaman jagung hibrida tersebut tidak akan tumbuh dengan baik. Bila kita ingin menggantikan dosis yang disarankan oleh pabrikan benih, perlu diperhitungkan apakah jumlah hara yang dibutuhkan tersebut dapat dipenuhi oleh alternatif yang kita gunakan. Misalnya kita ingin melakukan pertanian organik, pupuk organik yang kita berikan harus sanggup memenuhi kebutuhan pupuk sebanding dengan yang disarankan. Seandainya kita menggunakan kompos dengan kandungan N sebanyak 3%, untuk memenuhi 120 kg N kita akan membutuhkan 4 ton kompos tersebut, dan tetap perlu diperhatian sumber P dan K juga.

Posted by Adi Widjaja, M.Sc.

Apakah pupuk itu?

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk  mencukupi kebutuhan nutrisi/ hara yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral).

Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.

Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun.

Dalam praktik sehari-hari, pupuk biasa dikelompok-kelompokkan untuk kemudahan pembahasan. Pembagian itu berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, atau berdasarkan kandungannya.

Pupuk berdasarkan sumber bahan

Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami  dan (2)pupuk kimia atau pupuk buatan. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat proses fermentasi atau dekomposisi sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, contoh dari pupuk organik adalah pupuk kandang, kotoran kelelawar (guano), dan kompos. Sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses kimiawi dari bahan-bahan tambang maupun buatan. Pupuk kimia biasanya lebih “murni” daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya. Istilah organik terkadang membingungkan sebab penyebutan organik dalam konteks kimia adalah semua bahan yang memiliki ikatan karbon, seperti pupuk urea yang merupakan pupuk kimiawi yang diproses dari gas bumi memilki rantai karbon dalam molekulnya, (NH2)2CO, namun kita tidak dapat memasukkannya dalam kelompok organik karena proses kimiawi yang menyertai proses pembuatannya.

Contoh pupuk kimia, urea produksi China, source

Pupuk berdasarkan bentuk fisik

Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman.

Butiran pupuk NPK, source

Pupuk berdasarkan kandungannya

Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients).

Contoh pupuk mikro (dengan kombinasi makro) dalam bentuk gel, source

Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.

NPK Pelangi, contoh pupuk majemuk, source

Disadur dari Wikipedia Indonesia dengan beberapa perubahan. Posted by Adi Widjaja, M.Sc.

Analisa hasil usaha

“Is there anyone here who, planning to build a new house, doesn’t first sit down and figure the cost so you’ll know if you can complete it? If you only get the foundation laid and then run out of money, you’re going to look pretty foolish. Everyone passing by will poke fun at you” (The Massage, Luc 14:28-29)

Untuk mengukur sebuah usaha pertanian berhasil atau tidak, kita harus melihat nilai ekonomis akhir yang tersisa. Pada prinsipnya kita harus dengan cermat melakukan penghitungan seluruh biaya yang kita keluarkan dan pendapatan yang kita peroleh. Bagi petani tradisional, pendapatan biasanya hanya diperoleh dari penghasilan utama mereka, seperti misalnya jagung hanya mereka perhitungkan nilai jual jagung pipil mereka, meski sebenarnya dari limbah dalam proses pasca panen jagung mereka mendapatkan nilai ekonomis juga seperti “janggel”  (tongkol jagung yang telah dipipil) dapat mereka gunakan sebagai kayu bakar. Berikut contoh riil beberapa  analisa hasil usaha sederhana dari sebuah kelompok tani binaan kami.

Analisa usaha jagung hibrida

 Analisa usaha kedelai varietas Grobogan

Perlu diperhatikan variabel antara satu daerah dengan daerah lain akan berbeda, tarif antara satu daerah dengan daerah lain juga berbeda, dan tidak kalah pentingnya produktifitas (hasil panen per hektar) serta harga jual setiap lokasi dan musim juga berbeda.

Posted by Adi Widjaja, M.Sc.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.